Pangsa Pasar ISP Tergerus

Pangsa Pasar ISP Tergerus

03/05/2012 02:13 pm

SURABAYA (Suara Karya): Para pengusaha penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) mulai merasakan imbas tergerusnya pangsa pasar akibat ekspansi operator komunikasi seluler. Dalam hal ini, ISP tidak mungkin bisa bersaing, khususnya terkait aspek tarif untuk mengakses internet, karena seluruh infrastruktur yang digunakan para ISP statusnya menyewa dari operator komunikasi tersebut.

Menurut Customer Relationship Managemen (CRM) D-Net Eva Marlina, banyak pelanggan dari kelompok usaha ritel yang sudah beralih memanfaatkan layanan yang disediakan operator komunikasi seluler.

"Pelanggan ritel banyak berkurang. Beruntung 40 persen dari 6.000 pelanggan kami merupakan korporat yang saat ini belum tertarik menggunakan layanan internet mobile," ujarnya di sela seminar bertajuk "Internet: Legalitas, Sumber Daya, dan Keamanannya" di Surabaya, Selasa (25/10).

Salah satu strategi yang dilakukan D-Net untuk mempertahankan pelanggan, di antaranya dengan memaksimalkan layanan internet broadband yang saat ini juga digarap operator seluler. Para pelaku bisnis ISP juga makin fokus menggarap layanan lainnya, seperti layanan e-mail, domain, dan hosting untuk mendulang pendapatan.

Pada saat bersamaan, para pelaku bisnis ISP juga yang tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga makin aktif memantau perkembangan. "Kalau ada kebijakan yang dirasa mengancam bisnis kami, tentu kami akan bersatu padu mencarikan sulusi pemecahannya," ujar Eva yang juga bendahara APJII Jatim tersebut.

Pada bagian lain, Kabid Nasional Internet Registry (NIR) APJII Valens Riyadi mengklaim, saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke-17 dunia dalam jumlah kepemilikan IP address. Sedangkan di kawasan Asia Pasifik, posisi Indonesia berada di peringkat 4, setelah Jepang, Australia, dan China.
Rendahnya kepemilikan IP address Indonesia yang saat ini baru dimiliki 20 persen dari total perusahaan yang ada di Indonesia terjadi karena pengenalan IP address Indonesia belum secepat negara-negara maju. "Dari sektor telekomunikasi, Indonesia belum secanggih mereka, padahal IP address itu penting," katanya.

Idealnya setiap perusahaan harus memiliki IP address agar tidak terganggu aktivitasnya saat terjadi perpindahan server karena penuh. Dengan memiliki IP address sendiri, perusahaan bisa melakukan multi-homing dan fail over. Selain dibutuhkan perusahaan, IP address itu juga dibutuhkan instansi pemerintah dan dunia pendidikan. (Andira)

dari suarakarya

Berita Lainnya :