Workshop: Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk PemiluLatar Belakang
Teknologi informasi (TI) memungkinkan masyarakat mendapatkan hasil penghitungan
suara dari suatu pemilu secara cepat dan akurat. Namun di manapun di dunia ini,
belum ada satu sistem pemilu yang menempatkan perhitungan suara berbasis TI
sebagai satu-satunya sarana untuk mengabsahkan hasil pemilu. Keabsahan perhitungan
suara tetap berdasarkan pada perhitungan suara manual, berupa sertifikasi atau
berita acara penghitungan suara yang dilakukan secara berjenjang, dari tempat
pemungutan suara hingga tingkat nasional. Sedang perhitungan suara berbasis
TI diposisikan sebagai pembanding atas perhitungan suara manual tersebut.
Meskipun demikian, TI tetap memiliki peran strategis dalam
kegiatan pemilu dan proses politik berikutnya. Pertama, TI memungkinkan hasil
perhitungan suara diketahui secara cepat oleh masyarakat luas sehingga mampu
memuaskan rasa ingin tahu masyarakat akan hasil pemilu; Kedua, karena hasil
pemilu diketahui secara cepat maka memudahkan para politisi untuk mengambil
langkah-langkah politik dan membantu para pengusaha untuk mengambil keputusan
bisnis; Ketiga, TI tidak hanya digunakan untuk perhitungan suara tetapi juga
bisa digunakan untuk memudahkan proses administrasi pemilu yang lain, seperti
pendaftaran pemilih dan pendaftaran peserta pemilu.
Pengalaman Pemilu 1999 dan Pemilu Legislatif 2004 menunjukkan,
banyak pihak yang belum memahamai tentang posisi dan peran TI dalam pemilu.
Oleh karena itu berkembang opini dan penyikapan yang cenderung merugikan, sehingga
muncul dorongan agar perhitungan suara lewat TI dihentikan, tanpa mempedulikan
fakta bahwa masyarakat juga ingin mengetahui hasil pemilu secara cepat. Sikap
tersebut juga mengabaikan ketentuan undang-undang, bahwa perhitungan suara lewat
TI bukan merupakan basis keabsahan perhitungan sara pemilu. Hal itu terjadi,
karena tidak ada penjelasan yang konprehensif tentang posisi dan peran TI dalam
pemilu.
Berpijak dari pengalaman Pemilu Legislatif 2004, penyelenggara
pemilu dan komunitas TI bisa belajar banyak, bahwa menyiapkan sistem TI yang
cocok dengan pemilu di Indonesia bukanlah pekerjaan yang gampang. Untuk mendapatkan
sistem TI pemilu yang menghasilkan data yang cepat, akurat dan aman, para perancang
dan pelaksana TI pemilu harus memperhatikan sistem pemilu, kondisi geografis,
dan struktur jaringan komunikasi yang merupakan urat nadi TI. Tentu saja, masalah
keterbatasan dana dan sumber daya manusia harus benar-benar diperhatikan sehingga
pemanfaatan TI dalam untuk pemilu itu benar-benar maksimal.
Karena sistem TI pemilu digunakan untuk kepentingan publik,
maka sistem itu harus memiliki kredibilitas tinggi dan benar-benar teruji keandalannya,
sehingga peserta pemilu dan masyarakat tidak ragu atas kinerjanya. Dalam konteks
inilah maka pelibatan peserta pemilu, pemantau dan wakil-wakil pemilih dalam
proses penyiapan sistem pemilu sangat penting guna menumbuhkan kepercayaan bahwa
sistem yang akan dibangun benar-benar kredibel dan sudah mengakomodasi kepentingan
banyak pihak.
Dengan segala kelemahan, keterbatasan dan konstroversinya,
sistem TI yang digunakan untuk menghitung suara pada Pemilu Legislatif 2004
telah memberikan informasi hasil pemilu yang memadai buat masyarakat. Yang harus
segera dipikirkan adalah apakah sistem TI yang ada sudah cocok untuk pemilu
presiden yang akan datang. Memang pemilu presiden lebih sederhana dibandingkan
dengan pemilu legislatif, namun sensitivitas masyarakat dan kerawanan politik
pemilu presiden jauh lebih tinggi daripada pemilu legislatif, sehingga kesalalahan
peritungan suara sedikit saja akan menimbulkan dampak yang besar. Oleh karena
itu semua pihak perlu memberikan sumbang saran dalam rangka meningkatkan kredibiltas
dan kinerja sistem TI pemilu yang ada. Untuk kepentingan itulah maka Workshop
Pemanfaatan Teknologi untuk Pemilu digelar.
Tujuan
- Merumuskan penjelasan yang komprehensif tentang posisi dan peran TI dalam
pemilu.
- Memetakan masalah-masalah yang muncul dalam perancangan sistem TI yang
tepat buat pemilu, khususnya pemilu presiden.
- Memberikan masukan-masukan buat perbaikan sistem TI pemilu yang ada sehingga
bisa meningkatkan kredibiltas dan kinerjanya, khususnya untuk pemilu presiden
Format Kegiatan
Warkshop diawali oleh paparan ringkas dari tim TI KPU, pakar TI, peserta pemilu
dan pemantau, setelah itu dilanjutkan diskusi yang dipandu oleh dua fasilitator.Kedua
fasilitator tersebut masing-masing memahami masalah TI dan masalah hukum pemilu.
Penyelenggara:
- Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwas Pemilu)
Didukung oleh:
- Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII)
- Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII)
- Media Online detikcom
Fasilitator
- Heru Nugorho, Sekjen APJII
- Bambang Widjajanto, penasihat hukum Panwas Pemilu
Pemicu Diskusi:
- Basuki Sudirman, Koordinator Tim TI KPU
- Alex Rusli, Pakar TI (anggota team desain awal TI KPU)
- Eko Indrajit, Pakar TI
- Mohammad Yassin, Ketua DPP PAN
- Gunawan Hidayat, Koordinator JPPR
Peserta:
- Komunitas TI, 20 orang (terlampir)
- Partai Politik Peserta Pemilu, 24 orang (terlampir)
- Pemantau Pemilu, 6 orang (termapir)
Pelaksanaan:
Hari, tanggal : Senin, 19 April 2004
Waktu : 14.00 17.30 WIB
Tempat : di Jakarta.
Transkrip
Hasil Workshop
Di susun oleh : Wicaksono Surya Hidayat dan Titis Widyatmoko(wartawan
Detik.com)
Jakarta, 12 April 2004
Panwas Pemilu
|